Kaleidoskop Sepakbola Indonesia 2020: Kompetisi yang Tak Jelas Hingga Piala Dunia U-20 2021 Batal

– Sepakbola Indonesia punya catatan tak terlupakan di sepanjang tahun 2020. Terlebih saat pandemi Covid 19 hadir di Indonesia pada Maret lalu. Sebelum Covid 19 menyerbak dan pemerintah masif memberikan arahan protokol kesehatan. Kompetisi sepakbola kasta pertama, Liga 1 2020 resmi bergulir pada 29 Februari 2021. Pembukaan pun terasa sangat meriah di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya di mana laga perdana mempertemukan Persebaya Surabaya vs Persik Kediri.

Gemuruh 50 ribu penonton yang hadir di Stadion GBT saat itu membawa penonton yang melihatnya merinding dengan atmosfer sepakbola Indonesia. Namun, takdir berkata lain. Sabtu, 14 Maret 2020, Liga 1 baru memasuki pekan keempat dan Liga 2 baru saja dibuka, PSSI bersama pemerintah dalam hal ini Menpora Zainudin Amali mengumumkan penundaan Liga 1 dan Liga 2 2020 selama dua pekan dalam upaya menekan kasus Covid 19 yang mulai tersebar di Indonesia. Namun, setelah dua pekan. PSSI kembali memutuskan untuk kembali menambah durasi penundaan Liga 1 dan Liga 2. Kali ini PSSI menunda selama satu bulan, hingga 29 Mei 2020.

Putusan itu dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 48/SKEP/III/2020 tentang Kompetisi Liga dan Liga 2 Musim 2020 Dalam Keadaan Tertentu Darurat Bencana Virus Corona (Covid). Surat yang ditandatangani oleh Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan dikeluarkan pada tanggal 27 Maret 2020. Setelah itu, penundaan kembali terjadi. PSS kembali mengeluarkan Surat Keputusan (SK) bernomor SKEP/53/VI/2020 tentang kelanjutan kompetisi dalam keadaan luar biasa pada 28 Juni 2020. Dalam SK tersebut PSSI mengumumkan, kompetisi Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 akan dimulai pada Oktober 2020.

Penundaan kali ini, dianggap klub klub menjadi penundaan terakhir dan PSSI akan segera menggulirkan kompetisi pada 1 Oktober 2020. Apalagi, PSSI juga sudah membuat panduan protokol kesehatan yang diadopsi dari FIFA. Tak hanya itu, PSSI juga telah memberikan edukasi kepada masing masing dokter tim untuk menerapkan protokol kesehatan. Seluruh klub Liga 1 langsung memanggil para pemainnya kembali ke klubnya masing masing guna menjalani persiapan. Akan tetapi, drama penundaan kembali terjadi.

PSSI dan PT LIB lagi lagi mengumumkan penundaan kick off Liga 1 dua hari sebelum tanggal 1 Oktober yang semua dijadikan tanggal kick off lanjutan. Mereka mengumumkan hal itu dengan alasan tidak dapat izin keramaian dari pihak kepolisian. Sontak, kabar tersebut pun membuat seluruh pelaku sepakbola mulai dari pemain, pelatih, ofisial, pelatih, stakeholder sepakbola bahkan hingga masyarakat pecinta sepakbola pun kecewa. Kabar ini membuat mereka marah dan pasrah. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan sempat memohon kepada Polri untuk bisa mengeluarkan izin pada November 2020 jika tak diizinkan diminta bisa di Desember atau Januari.

“Namanya anak meminta ke bapak. Kalau bapaknya tidak kasih, ya tidak apa apa. Kami minta lagi Desember, kalau tidak bisa, kami minta lagi Januari. Jadi bukan mau melawan polisi, bukan. Saya saja bilang menghormati,” kata Iriawan Rabu (14/10/2020). “Apa yang dilakukan PSSI sebagai federasi adalah mengakomodir kemauan klub. Klub sepakat, kalau bisa 1 November, ya wajar saya memohon ke polisi. Kalau polisi tidak mengizinkan ya tidak apa apa. Kami tidak akan maksa lah. Kami kan warga negara yang taat hukum,” sambungnya. Buntut dari penundaan tersebut, seluruh klub klub Liga memulangkan para pemainnya, meskipun ada beberapa klub khususnya yang dari luar Jawa tetap bertahan di Yogyakarta dan berharap awal November bisa bergulir.

Pada akhirnya mereka benar benar harus kembali ke daerah asal karena November pun tak kunjung ada kepastian. Penderitaan bagi pemain dan pelatih serta pelaku sepakbola lainnya semakin bertambah tatkala PSSI mengeluarkan SK penundaan yang isinya juga mengatur pembayaran gaji pemain. SK bernomor SKEP/69/XI/2020 itu berisikan tentang penundaan Liga 1 2020 hingga Februari 2021. Sebabna masih sama Polri tak kunjung mengeluarkan izin keramaian.

Dalam SK tersebut, pemain hanya mendapatkan gaji 25 persen. Ada pemain yang menerima tapi tak sedikit juga yang mengeluh atas kebijakan itu. Untuk mendapatkan penghasilan lebih, beberapa pemain mulai hengkang dari klub klub Liga 1 dan mencari keberuntungan di klub klub di luar Indonesia. “Berdasarkan ketetapan pertama dan kedua, dikarenakan kompetisi tidak dapat dimulai akibat pandemi Covid 19 belum mereda sebagaimana ketetapan pemerintah, maka klub dapat menerapkan kebijakan pembayaran gaji pemain, pelatih dan ofisial mulai bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2020 dengan pembayaran maksimal 25% dari kewajiban yang tertera dalam perjanjian kerja sampai dengan dimulainya kompetisi,”

"Apabila kompetisi telah efektif untuk dapat dimulai, maka klub Liga 1 dan Liga 2 dapat melakukan kesepakatan ulang bersama dengan pelatih dan pemain atas penyesuaian nilai kontrak pada perjanjian kerja yang telah disepakati dan ditandatangani sebelumnya, yaitu perubahan nilai kontrak untuk Liga 1 dengan kisaran 50% dan Liga 2 dengan kisaran 60% dari total nilai kontrak atau sekurang kurangnya di atas upah minimum regional yang berlaku di masing masing domisili klub dan akan diberlakukan satu bulan sebelum kompetisi dimulai sampai dengan berakhirnya kompetisi dimaksud”, demikian isi SK perihal gaji pemain. Setelah SK itu disebar ke klub klub Liga 1 dan Liga 2, PSSI dan PT LIB terus berupaya mendapatkan izin keramaian dari Polri agar penyelenggaraan Liga 1 pada Februari 2021 benar benar bisa bergulir. Direktur Utama PT LIB, Akhmad Hadian Lukita pun sempat meyakini pihak Polri bakal mengeluarkan izin keramaian maksimal akhir Desember ini mengingat agenda Pilkada dan pengamanan Hari Raya Natal sudah usai.

Nyatanya, sampai di pengujung tahun ini, izin belum juga keluar bahkan salah satu klub Liga 1 Madura United telah menyiapkan draft surat pembubaran klub apabila izin Liga 1 belum juga keluar. Serupa dengan nasib Liga 1, Timnas Indonesia khususnya U 19 mulanya juga disambut dengan gegap gempita lantaran skuat Garuda Muda ini sengaja dipersiapkan untuk tampil di Piala Dunia U 20 2021. Sejarah baru bagi Indonesia, menjadi tuan rumah Piala Dunia U 20 sekaligus bisa turut serta di ajang yang kerap melahirkan pemain pemain top dunia tersebut.

Persiapan Timnas U 19 jelang tampil di Piala Dunia U 20 2021 berawal dari kehadiran Shin Tae yong. Pelatih yang pernah membawa Korea Selatan tampil di Piala Dunia 2018 itu sah menjadi Manajer Pelatih Timnas Indonesia pada Sabtu 28 Desember 2019. Shin Tae yong menjabat sebagai Manajer Pelatih Timnas Indonesia mulai U 19, U 23 hingga senior dengan durasi kontrak selama empat tahun. Hadirnya Shin Tae yong menggambarkan bahwa Indonesia memang benar benar ingin mempersiapkan Timnas U 19 khususnya menjadi lebih baik saat tampil di Piala Dunia U 20 nanti.

Usai terpilih, Shin Tae yong langsung bekerja; mencari pemain dan menyusun roadmap yang tepat untuk Timnas U 19. Dalam perjalanannya, drama perseteruan Shin Tae yong dengan Direktur Teknik Indra Sjafri pun sempat terjadi. Akan tetapi, drama itu tak berlangsung lama. Shin kembali ke Indonesia dan mulai menerapkan latihan serius. Pemusatan latihan dilakukan mulai di Jakarta, Thailand hingga Kroasia. Sekembalinya TC dari Kroasia yang memakan waktu hampir dua bulan, menjadikan para pemain lebih tangguh dalam kondisi fisik dan mental. Sementara untuk strategi dan teknik Shin Tae yong terus menggemblengnya.

Tak hanya itu, ajang Piala Dunia U 20 2021 yang juga didukung penuh oleh pemerintah membuat pemerintah juga turut ambil bagian membantu persiapan ini. Di bawah kepemimpinan Menpora Zainudin Amali yang dipilih sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Piala Dunia U 20 (Inafoc) seluruh sektor persiapan berjalan lancar. Kemenpora menjalankan sistem penyelenggaraan, Kementerian PUPR merenovasi enam stadion yang bakal dijadikan host Piala Dunia dan Kementerian atau lembaga lainnya juga mulai mempersiapkan di sektor sektor lainnya.

Persiapan telah berjalan: Stadion stadion di renovasi, sosialisasi mulai digaungkan, Timnas pun kembali diagendakan menjalani TC di Spanyol tapi Kamis 24 Desember 2020 FIFA mengeluarkan pengumuman mengejutkan. FIFA memutuskan untuk membatalkan atau menunda penyelenggaraan Piala Dunia U 20 2021 di Indonesia dan Piala Dunia U 17 di Peru 2021. Sebabnya, pandemi Covid 19 di dunia masih belum bisa teratasi dan jadi ancaman serius apabila masih dilangsungkan. Usai mendengar kabar itu sepakbola Indonesia seakan berduka. Kompetisi mandek tanpa kejelasan dan hiburan Piala Dunia U 20 2021 pun dibatalkan atau ditunda hingga 2023.

PSSI, Kemenpora dan Kementerian lainnya langsung menggelar rapat koordinasi setelah mendengar pembatalan Piala Dunia u 20. Salah satu hal yang jadi pembahasan yakni penggunaan anggaran yang sudah digelontorkan untuk persiapan Timnas Indonesia dan renovasi Stadion Stadion. Di sisi lain, pengumuman yang tercetus dua hari sebelum keberangkatan Timnas U 19 TC ke Spanyol, David Maulana dkk. akhirnya tetap diberangkatkan dengan alasan untuk persiapan Piala Asia U 19 Maret 2021 dan menjaga faktor psikologis pemain lantaran mereka dipastikan tak akan tampil pada Piala Dunia U 20 2023 karena usianya yang sudah lewat. Hasil dari rapat koordinasi, renovasi Stadion tetap berlanjut yang ditargetkan rampung pada Maret 2021. Akan tetapi setelah Stadion tersebut jadi, Kementerian PUPR hingga akhir 2021 masih akan merawatnya hingga akhir 2021.

Kemudian di sepanjang tahun 2022 menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah setempat hingga akhirnya dikembalikan lagi ke Kementerian PUPR pada awal 2023 hingga berlangsungnya Piala Dunia U 20 2023. Begitulah, kilas balik sepakbola Indonesia di sepanjang tahun 2020. Itu pun hanya segelintir. Masih masalah atau drama yang belum terurai dengan rinci. Seperti drama keluarnya Cucu Somantri dari jabatan sebagai Ketum PT LIB dan masuknya nama Akhmad Hadian Lukita. Mundurnya Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha yang diisukan karena adanya konflik internal di tubuh PSSI. Polemik perseteruan Manajer Shin Tae yong dengan PSSI dalam hal ini Indra Sjafri dan terakhir isu lelang jabatan Manajer Timnas U 19 di mana dikabarkan bahwa PSSI telah menerima uang sebesar Rp 1 Miliar untuk melepas jabatan tersebut.

Pandemi Covid 19 memang jadi akar penyebab dari karut marutnya perjalanan sepakbola Indonesia di tahun 2020. Semoga saat pandemi Covid 19 telah teratasi di awal 2021, sepakbola Indonesia kembali bangkit. Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 kembali jalan, kompetisi kelompok usai kembali bergulir, SSB masif diadakan, persiapan Timnas berjalan normal dan perputaran ekonomi di industri sepakbola yang menguntungkan kalangan bawah hingga atas bisa dirasakan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.